Langsung ke konten utama

Buta


Milyaran manusia mungkin ada yang tidak tahu mengapa dirinya dilahirkan di bumi yang terlalu fana. Tetapi ada juga yang paham tentang alasan dihadirkan di dunia. Tokoh aku terlalu berambisi untuk bisa menggenggam seisi jagat raya. Akankah ia mampu melewatinya?

Aku yaitu aku. Perempuan yang ditakdirkan untuk merasakan kejombloan selama belasan tahun. Bahkan sampai umur 19 tahun, aku belum pernah merasakan pacaran sama sekali. Entah apa yang aku pikirkan. Padahal, dari masa SD cinta selalu menghantuiku. Sejak SMP aku berani menulis tentang romance di aplikasi wattpad.

Meski aku belum pernah mengalami bagaimana rasanya mempunyai pacar, aku tetap bisa menulis puisi yang bertema cinta. Masih ku ingat di otakku, ketika aku mengalami cinta pertama. Rasanya ingin tertawa saja jika melihatnya.

Jatuh cinta dengan tetangga sendiri. Gila bukan!. Ya itu cinta pertamaku. Saat anak-anak bermain dengan asyiknya, aku tiba-tiba merasakan hal yang berbeda dari perilaku dia. Dia nampaknya juga menyukaiku. Hahahaha. Bodoh.

Namun, rasa itu hanya sekejap. Perpisahan yang membuat segalanya berakhir. Saat kelulusan sekolah dasar, hubungan aku dan dia sudah berbeda. Dan dia mungkin telah mendapatkan pasangan pengganti yang lebih cantik dari aku. Sekolah dia yang begitu elite berbeda dengan masa smp ku.
Masa smpku kelam. Aku terlalu pendiam dan malu untuk bertatapan dengan orang lain. Bodoh, lemah, dan mudah dicaci oleh orang lain. Hanya satu yang aku tunjukkan untuk teman-temanku semasa SMP. Aku bisa meraih juara umum satu waktu semester lima. Hebat bukan?. Hahaha rasanya aku ingin tertawa jika mengingat hal itu.
---


Kita jalan-jalan di sudut Malioboro menikmati suasana Jogja. Berbicara tentang hal-hal yang kita anggap lucu. Kita tertawa berdua sampai lupa bahwa disana banyak orang. Di keramaian banyak lalu lalang orang jalan sambil bergandengan. Aku memesan teh, dan kamu memesan kopi. Kita memang berbeda. Dengan perbedaan kita bisa menyatu.
Dibawah lampu itu, kita duduk sambil memandang awan yang telah berlanjut gelap. Ternyata obrolan renyah kita mengantarkan sampai jam dua belas malam. Pintu gerbang kosku sudah ditutup, mungkin aku akan membangunkan salah seorang dari teman kosku. Kita memutuskan saja untuk pulang.
Jalanan sepi. Motor kita membelah jalanan sendirian. Aku merasa kedinginan. Dia menawari tubuhnya untuk dipeluk. Ku sandarkan kepalaku ke punggungnya dan tanganku melingkar di perutnya. Sungguh, ini kah cinta terindah dalam hidupku?.
Sampai di depan gerbang kos, dia rela menungguku sampai benar-benar dibukakan pintu gerbangnya. Beruntung, ada teman kosku yang ikhlas membukakan pintu untukku. Sebelum aku masuk, dia tersenyum manis. Sungguh senyumannya itu manis sekali. Aku tak rela melepasnya.
----
Sore hari di pantai. Kita berlari-larian di tepi pantai. Setelah itu, kita capai dan duduk di atas pasir. Aku menguburkan kakimu dengan pasir. Sungguh itu hal yang sangat menyenangkan sekali. Ocehanku selalu tentang masa kecilku dimana aku yang masih polos. Dan untuk saat ini, kepolosanku belum juga sembuh.
Kamu terlalu menuntun hidupku. Aku sangat beruntung memilikimu. Senja telah pulang. Artinya, sebentar lagi, kita akan meninggalkan tempat yang begitu indah ini. Akankah kenangan kita nanti akan diingat di relung hati?. Aku suka. Aku tidak mau peristiwa ini akan berakhir dengan segera.
---

Ternyata itu semua hanya imajinasi yang keterlaluan. Selama hidupku aku belum pernah merasakan arti jatuh cinta. Pacaran?. Belum pernah. Bahkan ku akui, sudah sembilan belas tahun aku mengalami kejombloan yang hakiki. Entah sampai kapan kejombloanku ini akan hilang. Doakan saja, semoga lekas punya pacar! Biar tidak merasakan kesunyian. Hahaha.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serangkaian daun mangga

Serangkaian daun mangga        Detik menanti menunggu sang rembulan untuk bersemayam menuju peraduan tempat persinggahannya. Perlahan hilang ditelan masa yang tak urung tiba menjemputnya. Tahukah bahwa tak ada yang lebih istimewa dari daun mangga. Harumnya pun semerbak tak berani untuk menhirup dengan dua lubang hidung yang sama. Tak kuasa aku memetik salah satu daun yang hampir layu. Dengan tergesa aku segera menggerakkan tanganku untuk menyentuh daun itu. Ku raba dan ku pejamkan mataku, ada yang terasa aneh saat fikiranku terbang bebas melewati cakrawala. Ingin ku diam tapi tak tahan untuk membuka mulutku untuk berbicara. Rongga gigiku gemetar merasakan suasana kelembutan daun yang sangat lunglai. Bagaimana bisa daun itu mempertahankan hidupnya hanya sekedar untuk menempel di ranting pada satu pohon. Sampai waktu menyuruhnya untuk segera pulang dan satu per satu pohon mangga itu menggugurkan daun yang kering kerontang. Warna coklat dan keriput seperti umur manusi...

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Pulang

Pulang Lembayung angin membisik sukma Sayang raganya tak ada lagi di sana Aku ingin menyerah, namun Salahkah bila aku berhenti melangkah? Untuk apa!!! Hidup hanya menuai kesalahan Tambah terasing di keramaian Menjulur dan melebur menjadi kenangan Tersedu-sedu sepanjang malam Ingat akan cobaan yang tertanam Melalui nyanyian sunyi yang temaram Aku hidup bersama serpihan batu pualam Aku sempat berharap, Lebih baik langit runtuh saja Menenggelamkan seluruh isi dunia Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala Sekarang dan hari esok akan sama saja Tetap berjalan seperti udara Tuhan, jika alur dunia yang fana Perlahan-lahan masih sama Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang Lalu, semuanya akan hilang Yogyakarta, 11 Agustus 2018