Langsung ke konten utama

Sekeras inikah hidup?


Sekeras Inikah Hidup?

Ruang detik tak mampu berbicara
Menunggu serpihan udara melambai melewati kaca
Beradu suara membentuk nada
Melankolis namanya

Terdistorsi merasuk sukma
Melawan realita dalam keadaan fana
Banting tulang menjadi makanan kesehariannya
Peluh keringat simbol kerjanya
Rela pergi esok hari mengukir rupiah lewat tangan mungilnya

Anak menjadi tumpuan masa depan
Membangun seenggok harapan
Melalui jenjang pendidikan, menuai hasil impian

Apakah ini yang disebut kehidupan?
Sekeras batu karang tanpa ketajaman
Terasing dalam kesemuan dan keraguan
Ragu melangkah salah tujuan

Meniti masalah membuai keanehan
Mencaci diri sendiri menyesali keabadian
Letih nafasnya bukti tanggung jawab kepada insan
Tak kuasa melihat keperihatinan

Sungguh, inikah hidup di atas daratan
Berjuang mati-matian bekerja demi mempertahankan kehidupan
Melawan keegoisan yang terkadang membuat lupa akan kenyataan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Pulang

Pulang Lembayung angin membisik sukma Sayang raganya tak ada lagi di sana Aku ingin menyerah, namun Salahkah bila aku berhenti melangkah? Untuk apa!!! Hidup hanya menuai kesalahan Tambah terasing di keramaian Menjulur dan melebur menjadi kenangan Tersedu-sedu sepanjang malam Ingat akan cobaan yang tertanam Melalui nyanyian sunyi yang temaram Aku hidup bersama serpihan batu pualam Aku sempat berharap, Lebih baik langit runtuh saja Menenggelamkan seluruh isi dunia Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala Sekarang dan hari esok akan sama saja Tetap berjalan seperti udara Tuhan, jika alur dunia yang fana Perlahan-lahan masih sama Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang Lalu, semuanya akan hilang Yogyakarta, 11 Agustus 2018