Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah
usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang
tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia
mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.
Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku.
Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku
hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam
dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa
aku dulu sangat goblok?. Berbicara pun
tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku.
Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku.
Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku
menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang
aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.
Setelah putus dengan
teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan.
Mengapa ganti pasangan semudah membalikkan telapak tangan?
Aku mulai putus asa dengan harapan dia. Tetapi rasa
itu masih ada sampai sekarang. Apakah ini yang dinamakan kasih tak sampai?
Tuhan, ajari aku untuk bercerita soal rasa. Terutama
bagaimana mengungkapkan rasa kepada seseorang. Mengapa sampai saat ini yang ada
di fikiranku hanya tentang dia?. Mengapa rasa itu belum juga hilang?. Mengapa
orang lain yang mendekatiku belum mampu membuatku tertarik?.
Mengapa hanya dia
seorang yang ingin ku miliki?. Haruskah aku menaruh harap kepada dia? Sementara
dia belum pernah mendekatiku sama
sekali?. Apakah dia juga masih ada rasa?. Apakah dia masih memikirkanku?. Atau
dia sudah mendapatkan pasangan yang diinginkannya?.
Tuhan, aku percaya dengan garis-Mu. Aku yakin, dia
masih ada rasa. Dan aku percaya, jika dia berpacaran dengan orang lain pasti
dia belum bahagia. Aku sangat yakin, dia adalah orang yang susah untuk ku
lupakan. Bahkan sampai saat ini aku selalu memikirkannya. Semesta tolong aku!
Klaten,
20 Juli 2019

Komentar
Posting Komentar