Langsung ke konten utama

Pulang

Pulang

Lembayung angin membisik sukma
Sayang raganya tak ada lagi di sana
Aku ingin menyerah, namun
Salahkah bila aku berhenti melangkah?
Untuk apa!!!
Hidup hanya menuai kesalahan
Tambah terasing di keramaian
Menjulur dan melebur menjadi kenangan

Tersedu-sedu sepanjang malam
Ingat akan cobaan yang tertanam
Melalui nyanyian sunyi yang temaram
Aku hidup bersama serpihan batu pualam
Aku sempat berharap,
Lebih baik langit runtuh saja
Menenggelamkan seluruh isi dunia
Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala

Sekarang dan hari esok akan sama saja
Tetap berjalan seperti udara
Tuhan, jika alur dunia yang fana
Perlahan-lahan masih sama
Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu
Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang
Lalu, semuanya akan hilang

Yogyakarta, 11 Agustus 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Sekeras inikah hidup?

Sekeras Inikah Hidup? Ruang detik tak mampu berbicara Menunggu serpihan udara melambai melewati kaca Beradu suara membentuk nada Melankolis namanya Terdistorsi merasuk sukma Melawan realita dalam keadaan fana Banting tulang menjadi makanan kesehariannya Peluh keringat simbol kerjanya Rela pergi esok hari mengukir rupiah lewat tangan mungilnya Anak menjadi tumpuan masa depan Membangun seenggok harapan Melalui jenjang pendidikan, menuai hasil impian Apakah ini yang disebut kehidupan? Sekeras batu karang tanpa ketajaman Terasing dalam kesemuan dan keraguan Ragu melangkah salah tujuan Meniti masalah membuai keanehan Mencaci diri sendiri menyesali keabadian Letih nafasnya bukti tanggung jawab kepada insan Tak kuasa melihat keperihatinan Sungguh, inikah hidup di atas daratan Berjuang mati-matian bekerja demi mempertahankan kehidupan Melawan keegoisan yang terkadang membuat lupa akan kenyataan