Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Buta

Milyaran manusia mungkin ada yang tidak tahu mengapa dirinya dilahirkan di bumi yang terlalu fana. Tetapi ada juga yang paham tentang alasan dihadirkan di dunia. Tokoh aku terlalu berambisi untuk bisa menggenggam seisi jagat raya. Akankah ia mampu melewatinya? Aku yaitu aku. Perempuan yang ditakdirkan untuk merasakan kejombloan selama belasan tahun. Bahkan sampai umur 19 tahun, aku belum pernah merasakan pacaran sama sekali. Entah apa yang aku pikirkan. Padahal, dari masa SD cinta selalu menghantuiku. Sejak SMP aku berani menulis tentang romance di aplikasi wattpad. Meski aku belum pernah mengalami bagaimana rasanya mempunyai pacar, aku tetap bisa menulis puisi yang bertema cinta. Masih ku ingat di otakku, ketika aku mengalami cinta pertama. Rasanya ingin tertawa saja jika melihatnya. Jatuh cinta dengan tetangga sendiri. Gila bukan!. Ya itu cinta pertamaku. Saat anak-anak bermain dengan asyiknya, aku tiba-tiba merasakan hal yang berbeda dari perilaku dia. Dia nampaknya ju...

Menjadi Introver, Tidak Semudah Orang Kira

Hari-hari telah terlewati begitu saja. Tidak ada hal yang paling menyenangkan atau menarik sedetik pun. Semuanya terasa sama saja. Entah aku yang tak perasa atau aku kurang mencicipi rasa. Hidup bagiku merupakan jalan panjang yang tak pernah usai. Tujuan-tujuan hidup belum juga tercapai. Ambisi-ambisi belum juga terselesaikan. Mengapa hidup sekejam ini?. Mengapa beban hidup harus ada?. Mengapa hidup hanya tentang menikah lalu mati? Sementara ini, aku masih berstatus sebagai “jomblowati”. Aku merasa kesunyian sepanjang hidup. Mengapa aku yang sebentar lagi akan menginjak usia 19 tahun masih belum punya kekasih?. Bahkan pacaran pun, aku belum pernah melakukan sama sekali. Atau karena aku orangnya sangat pendiam, kalem, dan introver?. Jadi susah lelaki untuk mendekatiku. Padahal aku rasa, banyak lelaki yang kagum kepadaku. Tetapi mereka takut untuk dekat denganku. Sebenarnya aku tidak masalah jika lelaki itu mendekatiku. Bahkan aku sangat senang jika ada lelaki yang ingin ...

Rindu itu Candu

Ada hatinya yang sedang patah karena omongan busuk lelaki. Ada juga yang hatinya sunyi karena belum menemukan tambatan hati. Seseorang yang dulu di sukainya secara diam-diam kini hadir bersenyawa dalam mimpi. Sosok itu selalu mengusik logika dan tak mau pergi. Apakah ini pertanda bahwa sebenarnya cinta harus dimiliki?. Haruskah aku merasakan rindu yang datang berkali-kali?. Sampai aku hampir mati di peluk sunyi seorang diri. Pada akhirnya aku hanya menikmati ilusi yang bergejolak dalam nurani. Apakah hidup serumit ini? Padahal hanya perkara rindu yang tak mampu terobati. Dan juga perasaan yang belum sampai kepada sang pemilik hati. Padahal waktu sudah berputar seiring jalannya perbedaan jati diri. Tetapi rindu ini kerap kali menyiksa, terutama kala malam hari. Rindu memang candu. Tetapi rindu ku kepada sang pemilik hati tak mampu untuk temu. Berbicara saja susah apalagi harus saling temu dan tatapan seperti dulu. Seperti aku yang hanya bisa berharap namun tak bisa ber...

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Terusir

Aku sekarang tidak lagi punya rumah. Tempat tinggalku sekarang sementara hanya di sebuah kostan. Sedangkan rumah kampungku hanya untuk mampir tidur. Aku nelangsa. Aku miskin, tidak punya uang. Ketika aku pulang ke rumah, suasana berubah drastis. Wajah penghuni rumah suram. Mereka tidak lagi punya uang. Aku menyesal ketika pulang ke rumah. Lebih baik aku tak usah pulang saja, jika akhirnya hanya seperti ini. Meminta uang ke mamak saja rasanya tidak enak. Tetapi, aku belum lagi kerja. Dan saat ini aku ingin kerja untuk menambah uang jajan. Tetapi aku belum tahu mau kerja dimana. Tuhan, mengapa hidup sekeras ini! Aku sebenarnya tidak kuat, mengapa puan dilahirkan di dunia? Jikalau pada akhirnya hanya berujung seperti ini? Yogyakarta, 8 September 2019

Isyarat Terusir

Di rumah hanya satu hari. Pulang kali ini menjadi hal yang tidak   biasa bagi keluargaku. Mamakku yang bekerja sama dengan kakak laki-laki ku untuk mengatur segala hidupku. Aku yang masih terlihat seperti anak kecil disuruh menaati segala yang diucapkan oleh mamak. Sungguh sialan. Ditambah dengan kakak laki-laki ku yang ribet mengurusi hidupku di perantauan. Padahal kan aku sudah dewasa. Persetan dengan hidup. Kalau seperti ini, lebih baik aku tadi tak usah pulang ke rumah. Pulang hanya untuk menambah kesedihan yang semakin mendalam. Persetan dengan omelan kakak laki-laki ku yang selalu mengawasiku. Hidup harus serba hemat?. Mana bisa hidup di perantauan hemat?. Aku saja selalu menghabiskan banyak uang untuk makan lah, beli skincare lah, beli barang lah. Itu pun hanya mengandalkan uang beasiswa. Sungguh nelangsa nasibku kali ini. Aku sekarang memang beda dengan tahun kemarin saat di perantauan. Dulu, selalu ingin pulang. Bahkan setiap satu minggu sekali pulang. ...

Mengapa hidup begitu rumit?

Seiring berjalannya waktu, memang segalanya terasa kejam. Omongan orang sekitar yang panas, teman-teman   yang memiliki pergaulan serba mewah, dan lingkungan yang serba bebas. Mengapa alur kehidupan remaja itu begitu singkat?. Tuhan, aku hanya ingin hidup bebas itu saja. Selain itu, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Aku hanya ingin membuktikan kepada dunia, bahwa hidupku nelangsa. Tentang rasa yang tak urung sampai atau rasa yang sulit untuk dieja. Aku hanya ingin merasakan sekali saja bagaimana berpacaran dengan seseorang. Agar hidup tidak lagi kesunyian atau kesepian. Aku kerap merasakan siksaan rindu yang hadir tiap waktu. Bahkan aku menahan lapar untuk merasakan rindu yang begitu hebatnya. Mengapa usia dewasa sering menakut-nakutiku?. Aku selalu terhanyut pada asumsi untuk lekas kerja. Mengapa hidup itu terlalu monoton dan menyebalkan?. Lulus kuliah, kerja, dan setelah itu menikah. Mengapa hidup ini begitu membosankan?. Adakah waktu yang bisa ku habiskan han...

Jarak dan Media Massa

Media massa memang tidak selamanya nyata. Apa yang dilihat belum tentu iya, semuanya fana. Dari mulai chat pertama, rasa nyaman mulai terasa. Mengobrol dari kuliah hingga kehidupan sehari-hari. Chattan sampai tengah malam dan pada akhirnya bukan siapa-siapa. Ketika pagi diucapi selamat pagi, begitu pun juga malam menjelang. Nyataya, aku bukan siapa-siapa. Hal yang kutunggu-tunggu belum juga diucapkan. Apakah cinta hanya sebatas obrolan di lini masa. Atau saling berbalas rindu bahwa suatu saat pasti akan ketemu. Jarak memang memisahkan antara cinta dan dusta. Bagaimana bisa belum bertemu secara langsung bisa menyukai satu sama lain? Terkadang cinta memang buta seketika. Sebentar buka whatsapp, dan menunggu chat dari dia yang selalu mengabarkan bahwa dia sedang baik-baik saja. Memang bodoh jika di fikirkan. Dengan bertukar foto, rasa cinta mulai tumbuh secara sederhana. Bahkan berbalas chat pun dengan cepat. Rasanya seharian tidak ada chat dari dia, dunia ini ada yang berkurang. ...

Kosong dan Sunyi

Tengah malam aku meracau. Memikirkan hal-hal masa depan atau tempo lalu yang sungguh kacau. Kalau aku tidur, dingin semakin menusuk ruang-ruang halau.   Mataku belum mau menutup sampai aku melantunkan doa yang diajarkan orang tuaku. Detik jam kian terdengar dengan jelas ditambah suara hewan-hewan yang ada di luar sana. Malam kian memunculkan puncaknya. Hening bertambah sunyi menikam aku dalam relung warna logika. Memaksaku untuk terus merenung dan meratapi kehidupan yang masih seperti dulu. Selalu menghitung hari dan tak tahu sampai kapan usia akan dimakan waktu. Namun, ketika menelisik masa. Hatiku belum juga berpenghuni. Entah sampai kapan kosong terus ada sampai nyawa ini hilang jati diri. Ragaku ramai hatiku sunyi. Tuhan, izinkan aku merasakan sebuah rasa yang ada sebelum aku mati. Setiap hari sepi selalu mencoba untuk membunuhku. Hingga aku lupa bahwa ada harapan yang belum usai ku rayu. Tetapi sunyi selalu menikam aku untuk berbuat hal yang tidak perlu. Sampai p...