Langsung ke konten utama

Resensi Novel Ketika Cinta Bertasbih

Resensi Novel Ketika Cinta Bertasbih
1.Identitas Buku
a. Judul : Ketika Cinta Bertasbih
b. Penulis : Habiburrahman El Shirazy
c. Penerbit : Republika-Basmalah
d. Tahun terbitan : 2007
e. Tebal : 477 halaman
f. Harga : Rp. 69.000,-

2. Sinopsis
Novel ini menceritakan tiga sosok anak muda yang sedang menuntut ilmu disebuah perguruan Tinggi, Yaitu Universitas Al-Azhar Di Cairo, yang didalam perjalanan menuntut ilmu itu mereka banyak menghadapi konflik, khususnya didalam mencari jodoh, mereka adalah : Anna Altafunnisa, Khairul Azzam, dan Furqan Andi Hasan, serta banyak peran pendukungnya lainnya.
Anna Altafunnisa adalah anak dari seorang kiai ternama disebuah pesantren termahsyur di Desa Wangen yakni, Kiai Lutfi. Ia tumbuh dan besar dengan akhlak dan budi pekerti yang baik, ditambah lagi dengan paras yang cantik dan menawan, sehingga banyak mahasiswa Al- Azhar yang suka dan menaruh perhatian padanya termasuk diantara mereka Azzam dan Fuqran, serta laki-laki yang kenal dengan Anna di Indonesia, khususnya para santri dari pada pesantren Wangen.
Saat Anna kembali ke Indonesia, karena ia mendapat kesempatan untuk membuat penelitian dalam penyelesaiaan tesisnya, saat itulah Ayah nya meminta pada Anna agar memilih salah satu lamaran-lamaran yang telah datang pada nya, yang selama ini banyak lamaran yang datang dan banyak juga yang ditolaknya. Saat itu ayahnya mengatakan satu lamaran yang datang dari orang yang sangat dikenalnya Yaitu M. Ilyas, sedangkan yang datang langsung pada Anna Yaitu Fuqran Andi Hasan, yang melamarnya melalui ustadz Mujab.
Dalam kebimbangannya memilih antara Ilyas dan Furqan, ada seorang lelaki yang sebenarnya yang telah memikat hatinya dan diharapkannya bertemu kembali. Ia bertemu baru pertama kali dan waktu itu Ia bertemu di Cairo, yang dikenal olehnya dengan nama Abdullah alias Azzam, seorang penjual bakso dan tempe sekaligus Mahasiswa di Universitas Al- Azhar, Cairo. Azzam itu sebagai tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal satu tahun saat Azzam berada di Kairo. Setiap bulan Azzam mengirimi uang untuk menghidupi keluarganya.
Azzam mempunyai 3 adik perempuan yaitu Ayatul Husna. Husna itu sudah lulus S1 dan melanjutkan S2 nya sebagai psikologi sekaligus sebagai asisten dosen UNS. Ayatul Husna pandai menulis, khususnya dalam hal menulis cerpen. Cerpen yang sangat terkenal yaitu berjudul Menari Bersama Ombak. Adiknya yang kedua bernama Lia. Lia telah lulus D3 PGSD dan melanjutkan S1 nya di STAIN Surakarta sekaligus mengajar di SDIT AL-Kautsar. Adiknya yang ketiga bernama Sarah. Sarah masih belajar di Pondok Pesantren tepatnya di Kudus.
Berhubungan lamaran yang datang hanya dari Ilyas dan Furqan, dan harus dipilih salah satu dari mereka secepatnya, maka Ia memilih Furqan yang seorang lulusan S2 di Cairo dan sedang mengambil S3 nya, terlebih lagi karena Ia tahu lebih dekat siapa Furqan, dan tidak memilih Ilyas, karena kurang dapat menjaga pandangannya terhadap wanita. Setelah 9 tahun di Kairo Azzam pulang untuk menemui keluarganya. Saat itu, Pernikahan Anna dan Furqan berlangsung dan mereka hidup dengan baik. Azzam juga menghadiri acara pernikahan tersebut.
Setelah Anna dan Furqon menikah, ibunya Azzam yang bernama Ibu Nafis menyuruh Azzam agar Ia segera mencari pasangan hidup, dan Azzam pun mencari pendampingnya. Banyak wanita yang sudah dilamarnya, tapi selalu ada saja yang tidak cocok untuk dirinya, hingga suatu saat lamaran diterima dari seorang wanita. Ia bernama Vivi yang bekerja di Puskesmas Sayung Demak. Saat itu Husna juga dilamar oleh Muhammad Ilyas. Hingga suatu hari Azzam dan Husna akan menggelar acara pernikahan secara bersamaan. Azzam dan Husna membeli peralatan pernikahan sebelum akad nikahnya.
Selam 6 bulan Anna dan Furqan dalam kehidupannya yang baik saja, dan saat itu juga hubungan mereka retak, Furqan menceritakan pada Anna bahwasanya dia sudah tidak perjaka lagi sebelum menikah dengan Anna dan dipastika terkena HIV dan karena itu juga Ia tidak pernah menyentuh Anna, sehingga akhirnya Ia terpaksa memberi kebebasan kepada Anna untuk memilih melanjutkan hubungan rumah tangganya atau bercerai. Saat itu, Anna memilih cerai dengan Furqon karena Furqon menderita HIV.
Kembalilah Anna pada orang tuanya. Saat itu Ibu Nafis menyuruh Azzam bahwa saat acara pernikahannya ada seorang ustadz yang menjadi pembicara saat pernikahannya. Ibu Nafis menginginkan ustadz itu bernama Pak Kyai Lutfi. Setelah itu, Azzam dan Ibu Nafis mengendarai motornya dalam suasana gerimis untuk pergi mendatangi rumah Pak Kyai Lutfi. Sesampainya di rumah Pak Kyai Lutfi, ternyata Pak Kyai Lutfi menolak undangan tersebut karena Pak Kyai Lutfi merasa berdosa dalam mendidik anaknya. Anaknya telah bercerai dengan suaminya, padahal perceraian adalah hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. Saat itu, Pak Kyai Lutfi menyuruh agar mendatangi rumah Pak Kamal yang ada di Delanggu. Dalam suasana yang masih gerimis, Azzam dengan Ibu Nafis mengendarai motornya dan melaju ke rumah Pak Kamal. Dalam perjalanan Azzam dan Ibu Nafis mengalami kecelakaan.
Saat itu, Azzam dan Ibu Nafis dibawa ke Rumah Sakit PKU Delanggu. Husna dan Lia yang ada di rumah kaget mendengar hal itu. Saat itu, nyawa ibu Nafis tak tertolong dan meninggal dunia sedangkan Azzam mengalami kritis dan kelumpuhan. Setelah beberapa hari, Azzam memberi kebebasan pada Vivi jika Vivi masih sabar menunggu Azzam pulih kembali maka pernikahan Azzam dengan Vivi diundur beberapa bulan. Husna pun juga memberi kebebasan pada Muhammad Ilyas karena Husna tidak mau melangkahi kakaknya. Setelah beberapa bulan lamanya, Azzam menerima surat dari Vivi. Ini masih zaman Siti Nurbaya, ternyata Vivi telah dilamar seorang lelaki, ia dijodohkan dengan orang tuanya. Saat itu, Azzam pasrah dengan jodohnya.
Setelah satu tahun lamanya dan telah sembuh seperti semula, Azzam mendatangi Pak Kyai Lutfi untuk meminta bantuan mencarikan jodoh yang tepat sesuai permintaan Ibunya dulu. Kiai Lutfi lalu menceritakan seorang wanita yang dicerai suaminya karena suatu hal dan wanita itu masih perawan, yang diharapkan kiai Lutfi sendiri agar dapat diterima Azzam. Tanpa disadari Azzam Ia menerima tawaran Kiai Lutfi, agar menerima wanita itu menjadi istrinya, Azzam sangat senang begitu tahu kalau wanita yang diceritakan itu adalah orang yang pernah dicintainya yaitu Anna Althafunnisa, begitu juga sebaliknya Anna sangat senang karena Ia juga menjadi istri dari orang yang dulu sangat diharapkannya, atau cinta pertamanya.
Setelah sebulan pernikahan Anna dengan Azzam, tiba-tiba Furqan kembali menghubungi Anna lewat E-Mail dan membawa rujukan, dan Ia menceritakan bahwa Ia tidak terkena HIV. Tapi semua sudah terjadi Anna dan Azzam sudah bahagia, dan mereka mendoakan agar Furqan menemukan pasangan hidup yang cocok untuk nya.
3. Kelebihan Novel
Novel ini menghadirkan kisah percintaan bukan sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah.
Merupakan salah satu novel pembangun jiwa yang penuh akan makna.
Gaya bahasa yang ringan dan alur cerita yang mudah dimengerti membuat pembaca seakan dapat melihat apa yang ingin diperlihatkan penulis novel.
Novel ini terdapat tiga bahasa yaitu Bahasa Jawa, Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia.
Menambah pengetahuan pembaca tentang syariah-syariah islam
4. Kekurangan Novel
Banyak penggunaan bahasa asing (Arab) sehingga ada beberapa dialog yang kurang dimengerti oleh para pembaca. Kemudian latar yang di pilih kurang variatif karena dalam cerita tersebut latar tempatnya hanya di pusatkan di Kairo.
5. Nilai-nilai yang terkandung dalam novel
a. Nilai Sosial
Kehidupan seorang pemuda yang hidup mandiri di suatu Negara yaitu Cairo Mesir yang serba kekurangan tetapi memiliki tekad yang tinggi untuk meraih cita-cita nya.
b. Nilai Ekonomi
Kehidupannya sederhana tetapi Azam mempunyai tekad yang tinggi untuk terus meraih cita-cita nya dengan berjualan tempe di Cairo Mesir.
c. Nilai Agama
Novel ini sangat menganut kepada ajaran agama Islam.
d. Nilai Moral
Novel ini mengajarkan bahwa sesama muslim adalah saudara maka harus tolong menolong dan peduli.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Sekeras inikah hidup?

Sekeras Inikah Hidup? Ruang detik tak mampu berbicara Menunggu serpihan udara melambai melewati kaca Beradu suara membentuk nada Melankolis namanya Terdistorsi merasuk sukma Melawan realita dalam keadaan fana Banting tulang menjadi makanan kesehariannya Peluh keringat simbol kerjanya Rela pergi esok hari mengukir rupiah lewat tangan mungilnya Anak menjadi tumpuan masa depan Membangun seenggok harapan Melalui jenjang pendidikan, menuai hasil impian Apakah ini yang disebut kehidupan? Sekeras batu karang tanpa ketajaman Terasing dalam kesemuan dan keraguan Ragu melangkah salah tujuan Meniti masalah membuai keanehan Mencaci diri sendiri menyesali keabadian Letih nafasnya bukti tanggung jawab kepada insan Tak kuasa melihat keperihatinan Sungguh, inikah hidup di atas daratan Berjuang mati-matian bekerja demi mempertahankan kehidupan Melawan keegoisan yang terkadang membuat lupa akan kenyataan

Pulang

Pulang Lembayung angin membisik sukma Sayang raganya tak ada lagi di sana Aku ingin menyerah, namun Salahkah bila aku berhenti melangkah? Untuk apa!!! Hidup hanya menuai kesalahan Tambah terasing di keramaian Menjulur dan melebur menjadi kenangan Tersedu-sedu sepanjang malam Ingat akan cobaan yang tertanam Melalui nyanyian sunyi yang temaram Aku hidup bersama serpihan batu pualam Aku sempat berharap, Lebih baik langit runtuh saja Menenggelamkan seluruh isi dunia Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala Sekarang dan hari esok akan sama saja Tetap berjalan seperti udara Tuhan, jika alur dunia yang fana Perlahan-lahan masih sama Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang Lalu, semuanya akan hilang Yogyakarta, 11 Agustus 2018