Langsung ke konten utama

Resensi Buku Sastra dan Tekniknya

Judul Buku : Sastra dan Tekniknya
Pengarang : Mochtar Lubis
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit : 1997
Tebal Halaman : 202 halaman
Sinopsis Buku :

Buku Sastra dan Tekniknya, karya Mochtar Lubis ini menceritakan tentang dunia sastra. Mengenai wawasan sastra dan bagaimana cara mengembangkan sastra dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku ini menyajikan teknik mengarang sastra yang baik. Sastra ada karena sastra sangat dibutuhkan di era milenial seperti sekarang. Sastra bisa memanusiawikan manusia. Pengarang harus mampu membuka fikiran terbuka dan mempunyai kepekaan untuk mendapatkan inspirasi. Inspirasi bisa datang kapan dan dimana saja. Oleh karena itu, seorang pengarang yang langsung mendapatkan insprasi biasanya akan dengan cepat membuat suatu karya. Peran sastra dalam kehidupan masyarakat sangat dominan. Karena sastra mempunyai intuisi dan perasaan yang luar biasa, sehingga dekat dan amat peduli dengan kehidupan masyarakat. Suatu Negara bisa dikatakan maju, apabila dalam Negara mempunyai pendapatan perkapita tinggi.

Tetapi dalam ilmu sastra, suatu Negara dapat dikatakan maju apabila seluruh elemen rakyat dapat merasakan keadilan dalam hidupnya.
Keadilan dalam hidup memang berbeda-beda. Ada orang kaya dan orang miskin, ada orang yang mampu menuntut ilmu sampai jenjang tertinggi dan ada orang yang tidak bisa menuntut ilmu karena terhambat biaya ekonomi, ada orang orang yang mendapatkan pekerjaan dan ada orang yang pengangguran, ada orang yang mencari uang dan ada orang yang menghabiskan uang. Itu masih dapat dikatakan tidak adil.

Dalam buku ini mempelajari aspek kehidupan dalam jiwa pengarang. Seorang pengarang mampu untuk memantaskan diri dalam menyikapi kerasnya kehidupan. Dalam sastra, kaidah hidup manusia juga terpaut untuk dijadikan inspirasi. Watak dan sifat manusia dalam individu berbeda-beda. Ada yang baik ada juga yang jahat, ada yang dengki ada juga yang pemaaf, ada yang pelit ada juga yang dermawan, ada yang biadab ada juga yang beradab.
Dalam buku ini menyajikan cara seorang pengarang dalam menulis suatu karya. Bagaimana langkah menulis cerpen, novel dan mengarang suatu karangan. Seorang pengarang dalam menulis cerpen ataupun novel harus mempunyai ide dan imajinasi. Agar mendapatkan imajinasi, maka pengarang harus melihat suasana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk melindungi cerita dari monoton, sebaiknya pengarang membuat skets terlebih dahulu sebelum menentukan tema yang akan dibuat cerita.  Pengarang akan mendapatkan bahasa yang beragam jika mempelajari sastra. Bahasa yang digunakan seorang pengarang sebaiknya di luar nalar manusia agar pengarang bisa merasakan benar-benar bebas.

Bahasa juga komunikatif untuk mendukung suatu penciptaan karya.
Kreativitas sangat membantu seorang pengarang dalam menentukan ide karangan. Kreativitas dapat muncul dari pengalaman-pengalaman seorang pengarang. Semakin banyak pengalaman seorang pengarang dalam hidupnya semakin banyak pula ide yang diciptakan oleh pengarang. Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh pengarang yang akan mulai mengarang suatu karya. Jadi, ayo menulislah untuk bisa dijadikan referensi modal hidup. Hidup hanya satu kali, ayo membuat karya agar bisa dinikmati anak cucu kelak.

Kelebihan Buku :
1. Buku ini menyajikan cara mengarang dan mempelajari sastra lebih detail.
2. Dalam buku ini ada beberapa cara teknik mengarang, menulis cerpen, dan menulis novel.
3. Dalam buku ini memuat contoh cerpen dan sinopsis novel oleh pengarang terkenal.
Kekurangan Buku :
1. Dalam buku ini banyak kata-kata asing yang sulit dipahami.
2. Dalam buku ini ada beberapa bahasa yang tinggi sehingga agak rumit menafsirkan maknanya.

http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Sekeras inikah hidup?

Sekeras Inikah Hidup? Ruang detik tak mampu berbicara Menunggu serpihan udara melambai melewati kaca Beradu suara membentuk nada Melankolis namanya Terdistorsi merasuk sukma Melawan realita dalam keadaan fana Banting tulang menjadi makanan kesehariannya Peluh keringat simbol kerjanya Rela pergi esok hari mengukir rupiah lewat tangan mungilnya Anak menjadi tumpuan masa depan Membangun seenggok harapan Melalui jenjang pendidikan, menuai hasil impian Apakah ini yang disebut kehidupan? Sekeras batu karang tanpa ketajaman Terasing dalam kesemuan dan keraguan Ragu melangkah salah tujuan Meniti masalah membuai keanehan Mencaci diri sendiri menyesali keabadian Letih nafasnya bukti tanggung jawab kepada insan Tak kuasa melihat keperihatinan Sungguh, inikah hidup di atas daratan Berjuang mati-matian bekerja demi mempertahankan kehidupan Melawan keegoisan yang terkadang membuat lupa akan kenyataan

Pulang

Pulang Lembayung angin membisik sukma Sayang raganya tak ada lagi di sana Aku ingin menyerah, namun Salahkah bila aku berhenti melangkah? Untuk apa!!! Hidup hanya menuai kesalahan Tambah terasing di keramaian Menjulur dan melebur menjadi kenangan Tersedu-sedu sepanjang malam Ingat akan cobaan yang tertanam Melalui nyanyian sunyi yang temaram Aku hidup bersama serpihan batu pualam Aku sempat berharap, Lebih baik langit runtuh saja Menenggelamkan seluruh isi dunia Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala Sekarang dan hari esok akan sama saja Tetap berjalan seperti udara Tuhan, jika alur dunia yang fana Perlahan-lahan masih sama Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang Lalu, semuanya akan hilang Yogyakarta, 11 Agustus 2018