Serangkaian daun mangga
Detik menanti menunggu sang rembulan untuk bersemayam menuju peraduan tempat persinggahannya. Perlahan hilang ditelan masa yang tak urung tiba menjemputnya. Tahukah bahwa tak ada yang lebih istimewa dari daun mangga. Harumnya pun semerbak tak berani untuk menhirup dengan dua lubang hidung yang sama. Tak kuasa aku memetik salah satu daun yang hampir layu. Dengan tergesa aku segera menggerakkan tanganku untuk menyentuh daun itu. Ku raba dan ku pejamkan mataku, ada yang terasa aneh saat fikiranku terbang bebas melewati cakrawala. Ingin ku diam tapi tak tahan untuk membuka mulutku untuk berbicara. Rongga gigiku gemetar merasakan suasana kelembutan daun yang sangat lunglai. Bagaimana bisa daun itu mempertahankan hidupnya hanya sekedar untuk menempel di ranting pada satu pohon. Sampai waktu menyuruhnya untuk segera pulang dan satu per satu pohon mangga itu menggugurkan daun yang kering kerontang. Warna coklat dan keriput seperti umur manusia yang sudah renta. Tetapi, mereka tak menyalahkan angin yang telah menggugurkan dan membawanya ke tempat yang berbeda dari majikannya. Pasrah dan lemah sampai dinjak-injak manusia rela di buang lalu dibakar begitu saja. Sungguh malang nasib daun itu, namun apakah ada sangkut pautnya dengan takdir?. Jika hal ini terus terjadi, rontokkanlah semua daun mangga sampai tak tersisa. Biar maut menjemput semua daun yang menempel lalu hilang semua hidupnya.
Detik menanti menunggu sang rembulan untuk bersemayam menuju peraduan tempat persinggahannya. Perlahan hilang ditelan masa yang tak urung tiba menjemputnya. Tahukah bahwa tak ada yang lebih istimewa dari daun mangga. Harumnya pun semerbak tak berani untuk menhirup dengan dua lubang hidung yang sama. Tak kuasa aku memetik salah satu daun yang hampir layu. Dengan tergesa aku segera menggerakkan tanganku untuk menyentuh daun itu. Ku raba dan ku pejamkan mataku, ada yang terasa aneh saat fikiranku terbang bebas melewati cakrawala. Ingin ku diam tapi tak tahan untuk membuka mulutku untuk berbicara. Rongga gigiku gemetar merasakan suasana kelembutan daun yang sangat lunglai. Bagaimana bisa daun itu mempertahankan hidupnya hanya sekedar untuk menempel di ranting pada satu pohon. Sampai waktu menyuruhnya untuk segera pulang dan satu per satu pohon mangga itu menggugurkan daun yang kering kerontang. Warna coklat dan keriput seperti umur manusia yang sudah renta. Tetapi, mereka tak menyalahkan angin yang telah menggugurkan dan membawanya ke tempat yang berbeda dari majikannya. Pasrah dan lemah sampai dinjak-injak manusia rela di buang lalu dibakar begitu saja. Sungguh malang nasib daun itu, namun apakah ada sangkut pautnya dengan takdir?. Jika hal ini terus terjadi, rontokkanlah semua daun mangga sampai tak tersisa. Biar maut menjemput semua daun yang menempel lalu hilang semua hidupnya.
Komentar
Posting Komentar