Langsung ke konten utama

Serangkaian daun mangga

Serangkaian daun mangga

       Detik menanti menunggu sang rembulan untuk bersemayam menuju peraduan tempat persinggahannya. Perlahan hilang ditelan masa yang tak urung tiba menjemputnya. Tahukah bahwa tak ada yang lebih istimewa dari daun mangga. Harumnya pun semerbak tak berani untuk menhirup dengan dua lubang hidung yang sama. Tak kuasa aku memetik salah satu daun yang hampir layu. Dengan tergesa aku segera menggerakkan tanganku untuk menyentuh daun itu. Ku raba dan ku pejamkan mataku, ada yang terasa aneh saat fikiranku terbang bebas melewati cakrawala. Ingin ku diam tapi tak tahan untuk membuka mulutku untuk berbicara. Rongga gigiku gemetar merasakan suasana kelembutan daun yang sangat lunglai. Bagaimana bisa daun itu mempertahankan hidupnya hanya sekedar untuk menempel di ranting pada satu pohon. Sampai waktu menyuruhnya untuk segera pulang dan satu per satu pohon mangga itu menggugurkan daun yang kering kerontang. Warna coklat dan keriput seperti umur manusia yang sudah renta. Tetapi, mereka tak menyalahkan angin yang telah menggugurkan dan membawanya ke tempat yang berbeda dari majikannya. Pasrah dan lemah sampai dinjak-injak manusia rela di buang lalu dibakar begitu saja. Sungguh malang nasib daun itu, namun apakah ada sangkut pautnya dengan takdir?. Jika hal ini terus terjadi, rontokkanlah semua daun mangga sampai tak tersisa. Biar maut menjemput semua daun yang  menempel lalu hilang semua hidupnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Sekeras inikah hidup?

Sekeras Inikah Hidup? Ruang detik tak mampu berbicara Menunggu serpihan udara melambai melewati kaca Beradu suara membentuk nada Melankolis namanya Terdistorsi merasuk sukma Melawan realita dalam keadaan fana Banting tulang menjadi makanan kesehariannya Peluh keringat simbol kerjanya Rela pergi esok hari mengukir rupiah lewat tangan mungilnya Anak menjadi tumpuan masa depan Membangun seenggok harapan Melalui jenjang pendidikan, menuai hasil impian Apakah ini yang disebut kehidupan? Sekeras batu karang tanpa ketajaman Terasing dalam kesemuan dan keraguan Ragu melangkah salah tujuan Meniti masalah membuai keanehan Mencaci diri sendiri menyesali keabadian Letih nafasnya bukti tanggung jawab kepada insan Tak kuasa melihat keperihatinan Sungguh, inikah hidup di atas daratan Berjuang mati-matian bekerja demi mempertahankan kehidupan Melawan keegoisan yang terkadang membuat lupa akan kenyataan

Pulang

Pulang Lembayung angin membisik sukma Sayang raganya tak ada lagi di sana Aku ingin menyerah, namun Salahkah bila aku berhenti melangkah? Untuk apa!!! Hidup hanya menuai kesalahan Tambah terasing di keramaian Menjulur dan melebur menjadi kenangan Tersedu-sedu sepanjang malam Ingat akan cobaan yang tertanam Melalui nyanyian sunyi yang temaram Aku hidup bersama serpihan batu pualam Aku sempat berharap, Lebih baik langit runtuh saja Menenggelamkan seluruh isi dunia Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala Sekarang dan hari esok akan sama saja Tetap berjalan seperti udara Tuhan, jika alur dunia yang fana Perlahan-lahan masih sama Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang Lalu, semuanya akan hilang Yogyakarta, 11 Agustus 2018