Langsung ke konten utama

Isyarat Terusir


Di rumah hanya satu hari. Pulang kali ini menjadi hal yang tidak  biasa bagi keluargaku. Mamakku yang bekerja sama dengan kakak laki-laki ku untuk mengatur segala hidupku. Aku yang masih terlihat seperti anak kecil disuruh menaati segala yang diucapkan oleh mamak. Sungguh sialan. Ditambah dengan kakak laki-laki ku yang ribet mengurusi hidupku di perantauan.

Padahal kan aku sudah dewasa.

Persetan dengan hidup. Kalau seperti ini, lebih baik aku tadi tak usah pulang ke rumah. Pulang hanya untuk menambah kesedihan yang semakin mendalam.

Persetan dengan omelan kakak laki-laki ku yang selalu mengawasiku.
Hidup harus serba hemat?. Mana bisa hidup di perantauan hemat?. Aku saja selalu menghabiskan banyak uang untuk makan lah, beli skincare lah, beli barang lah. Itu pun hanya mengandalkan uang beasiswa. Sungguh nelangsa nasibku kali ini.

Aku sekarang memang beda dengan tahun kemarin saat di perantauan. Dulu, selalu ingin pulang. Bahkan setiap satu minggu sekali pulang. Sekarang, pulang saja rasanya malas. Pulang ke rumah juga tidak melakukan apa-apa selain rebahan dan tiduran.

Aku sungguh nestapa!

Kuliah sebenarnya hanya untuk orang kaya. Tetapi aku ingin kuliah Tuhan, aku ingin meraih apa yang aku inginkan. Aku ingin nantinya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
Sedangkan pulang kali ini, aku hanya menanggung derita dari mamak. Pulang hanya untuk meminta uang dan menghabiskannya di kota perantauan. Anenya, mamak malah membelikanku anting yang harganya ratusan ribu.

Padahal, perhiasan itu sebenarnya benda yang tidak penting. Bahkan tidak dilihat banyak orang. Mamakku malah sanggup membelinya untukku.
Aku tidak setuju. Rasanya aku ingin menjual perhiasan itu lagi, dan uangnya ku gunakan untuk biaya hidup di kota.

Tuhan, kurang hemat apa lagi aku di kota?.
Apakah ini pertanda aku disuruh untuk lekas bekerja? Agar tidak bergantung uang dengan mamak, bapak, dan kakak laki-laki ku?.
Saat ini aku benci dengan kehidupan yang selalu memaksaku untuk mencari uang!
Hidup hanya untuk menunda kekayaan!

Klaten, 7 September 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Sekeras inikah hidup?

Sekeras Inikah Hidup? Ruang detik tak mampu berbicara Menunggu serpihan udara melambai melewati kaca Beradu suara membentuk nada Melankolis namanya Terdistorsi merasuk sukma Melawan realita dalam keadaan fana Banting tulang menjadi makanan kesehariannya Peluh keringat simbol kerjanya Rela pergi esok hari mengukir rupiah lewat tangan mungilnya Anak menjadi tumpuan masa depan Membangun seenggok harapan Melalui jenjang pendidikan, menuai hasil impian Apakah ini yang disebut kehidupan? Sekeras batu karang tanpa ketajaman Terasing dalam kesemuan dan keraguan Ragu melangkah salah tujuan Meniti masalah membuai keanehan Mencaci diri sendiri menyesali keabadian Letih nafasnya bukti tanggung jawab kepada insan Tak kuasa melihat keperihatinan Sungguh, inikah hidup di atas daratan Berjuang mati-matian bekerja demi mempertahankan kehidupan Melawan keegoisan yang terkadang membuat lupa akan kenyataan

Pulang

Pulang Lembayung angin membisik sukma Sayang raganya tak ada lagi di sana Aku ingin menyerah, namun Salahkah bila aku berhenti melangkah? Untuk apa!!! Hidup hanya menuai kesalahan Tambah terasing di keramaian Menjulur dan melebur menjadi kenangan Tersedu-sedu sepanjang malam Ingat akan cobaan yang tertanam Melalui nyanyian sunyi yang temaram Aku hidup bersama serpihan batu pualam Aku sempat berharap, Lebih baik langit runtuh saja Menenggelamkan seluruh isi dunia Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala Sekarang dan hari esok akan sama saja Tetap berjalan seperti udara Tuhan, jika alur dunia yang fana Perlahan-lahan masih sama Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang Lalu, semuanya akan hilang Yogyakarta, 11 Agustus 2018