Media massa memang tidak selamanya nyata. Apa yang
dilihat belum tentu iya, semuanya fana. Dari mulai chat pertama, rasa nyaman
mulai terasa. Mengobrol dari kuliah hingga kehidupan sehari-hari. Chattan
sampai tengah malam dan pada akhirnya bukan siapa-siapa. Ketika pagi diucapi
selamat pagi, begitu pun juga malam menjelang.
Nyataya, aku bukan siapa-siapa. Hal yang
kutunggu-tunggu belum juga diucapkan. Apakah cinta hanya sebatas obrolan di
lini masa. Atau saling berbalas rindu bahwa suatu saat pasti akan ketemu. Jarak
memang memisahkan antara cinta dan dusta. Bagaimana bisa belum bertemu secara
langsung bisa menyukai satu sama lain?
Terkadang cinta memang buta seketika. Sebentar buka
whatsapp, dan menunggu chat dari dia yang selalu mengabarkan bahwa dia sedang
baik-baik saja. Memang bodoh jika di fikirkan. Dengan bertukar foto, rasa cinta
mulai tumbuh secara sederhana. Bahkan berbalas chat pun dengan cepat. Rasanya
seharian tidak ada chat dari dia, dunia ini ada yang berkurang.
Mencoba sekali telpon saja rasanya deg-deg an parah.
Padahal bukan siapa-siapa. Apakah ini pertanda. Bukan, nyatanya aku hanya
sebatas teman chat biasa. Aku bukan siapa-siapa di hidupnya kan. Ingin aku menyudahi sandiwara
bodoh ini. Tetapi, rasanya mempunyai teman yang belum pernah bertemu satu kali
pun rasanya istimewa.
Bisa bertukar kehidupan kuliah, atau berbagi materi
karena jurusan kita sama. Tetapi Universitas kita berbeda. Dia Jember, aku
Jogja. Jarak terkadang memang kejam. Ia rela memisahkan rasa karena media
massa. Akhiri semua atau nanti akan menyesal seketika. Karena sudah terlalu
memendam rasa, hingga pada akhirnya akan sakit dengan sendirinya. Mencintai
memang hal yang sungguh berat. Dan aku tidak kuat apabila mencintai sendirian.
Lalu semuanya pasti akan hilang dan menjadi kenangan.
Klaten, 24 Juni 2019
Komentar
Posting Komentar