Tengah malam aku meracau. Memikirkan hal-hal masa
depan atau tempo lalu yang sungguh kacau. Kalau aku tidur, dingin semakin
menusuk ruang-ruang halau. Mataku belum
mau menutup sampai
aku melantunkan doa yang diajarkan orang tuaku.
Detik jam kian terdengar dengan jelas ditambah suara
hewan-hewan yang ada di luar sana. Malam kian memunculkan puncaknya. Hening
bertambah sunyi menikam aku dalam relung warna logika. Memaksaku untuk terus
merenung dan meratapi kehidupan yang masih seperti dulu. Selalu menghitung hari
dan tak tahu sampai kapan usia akan dimakan waktu.
Namun, ketika menelisik masa. Hatiku belum juga
berpenghuni. Entah sampai kapan kosong terus ada sampai nyawa ini hilang jati
diri. Ragaku ramai hatiku sunyi. Tuhan, izinkan aku merasakan sebuah rasa yang
ada sebelum aku mati.
Setiap hari sepi selalu mencoba untuk membunuhku.
Hingga aku lupa bahwa ada harapan yang belum usai ku rayu. Tetapi sunyi selalu
menikam aku untuk berbuat hal yang tidak perlu. Sampai pada akhirnya aku hanya
dipermainkan oleh waktu.
Komentar
Posting Komentar