Langsung ke konten utama

Mengapa hidup begitu rumit?


Seiring berjalannya waktu, memang segalanya terasa kejam. Omongan orang sekitar yang panas, teman-teman  yang memiliki pergaulan serba mewah, dan lingkungan yang serba bebas. Mengapa alur kehidupan remaja itu begitu singkat?.

Tuhan, aku hanya ingin hidup bebas itu saja. Selain itu, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Aku hanya ingin membuktikan kepada dunia, bahwa hidupku nelangsa. Tentang rasa yang tak urung sampai atau rasa yang sulit untuk dieja. Aku hanya ingin merasakan sekali saja bagaimana berpacaran dengan seseorang. Agar hidup tidak lagi kesunyian atau kesepian.
Aku kerap merasakan siksaan rindu yang hadir tiap waktu. Bahkan aku menahan lapar untuk merasakan rindu yang begitu hebatnya.

Mengapa usia dewasa sering menakut-nakutiku?. Aku selalu terhanyut pada asumsi untuk lekas kerja. Mengapa hidup itu terlalu monoton dan menyebalkan?. Lulus kuliah, kerja, dan setelah itu menikah. Mengapa hidup ini begitu membosankan?. Adakah waktu yang bisa ku habiskan hanya untuk bersenang-senang menikmati dunia dan segala keindahannya?. Sebelum semuanya tinggal sia-sia.
Apakah hidup hanya tentang reputasi dan harga diri?. Padahal semua itu hanya bersifaat kefanaan duniawi. Sementara hidup bukankah hanya untuk mati?.

Mengapa hidup ini begitu rumit?.
Dan mengapa bersyukur itu susah untuk aku yang selalu berserah?.
Klaten, 22 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Sekeras inikah hidup?

Sekeras Inikah Hidup? Ruang detik tak mampu berbicara Menunggu serpihan udara melambai melewati kaca Beradu suara membentuk nada Melankolis namanya Terdistorsi merasuk sukma Melawan realita dalam keadaan fana Banting tulang menjadi makanan kesehariannya Peluh keringat simbol kerjanya Rela pergi esok hari mengukir rupiah lewat tangan mungilnya Anak menjadi tumpuan masa depan Membangun seenggok harapan Melalui jenjang pendidikan, menuai hasil impian Apakah ini yang disebut kehidupan? Sekeras batu karang tanpa ketajaman Terasing dalam kesemuan dan keraguan Ragu melangkah salah tujuan Meniti masalah membuai keanehan Mencaci diri sendiri menyesali keabadian Letih nafasnya bukti tanggung jawab kepada insan Tak kuasa melihat keperihatinan Sungguh, inikah hidup di atas daratan Berjuang mati-matian bekerja demi mempertahankan kehidupan Melawan keegoisan yang terkadang membuat lupa akan kenyataan

Pulang

Pulang Lembayung angin membisik sukma Sayang raganya tak ada lagi di sana Aku ingin menyerah, namun Salahkah bila aku berhenti melangkah? Untuk apa!!! Hidup hanya menuai kesalahan Tambah terasing di keramaian Menjulur dan melebur menjadi kenangan Tersedu-sedu sepanjang malam Ingat akan cobaan yang tertanam Melalui nyanyian sunyi yang temaram Aku hidup bersama serpihan batu pualam Aku sempat berharap, Lebih baik langit runtuh saja Menenggelamkan seluruh isi dunia Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala Sekarang dan hari esok akan sama saja Tetap berjalan seperti udara Tuhan, jika alur dunia yang fana Perlahan-lahan masih sama Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang Lalu, semuanya akan hilang Yogyakarta, 11 Agustus 2018