Seiring berjalannya waktu, memang segalanya terasa
kejam. Omongan orang sekitar yang panas, teman-teman yang memiliki pergaulan serba mewah, dan lingkungan
yang serba bebas. Mengapa alur kehidupan remaja itu begitu singkat?.
Tuhan, aku hanya ingin hidup bebas itu saja. Selain
itu, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Aku hanya ingin membuktikan
kepada dunia, bahwa hidupku nelangsa. Tentang rasa yang tak urung sampai atau
rasa yang sulit untuk dieja. Aku hanya ingin merasakan sekali saja bagaimana
berpacaran dengan seseorang. Agar hidup tidak lagi kesunyian atau kesepian.
Aku kerap merasakan siksaan rindu yang hadir tiap
waktu. Bahkan aku menahan lapar untuk merasakan rindu yang begitu hebatnya.
Mengapa usia dewasa sering menakut-nakutiku?. Aku
selalu terhanyut pada asumsi untuk lekas kerja. Mengapa hidup itu terlalu
monoton dan menyebalkan?. Lulus kuliah, kerja, dan setelah itu menikah. Mengapa
hidup ini begitu membosankan?. Adakah waktu yang bisa ku habiskan hanya untuk
bersenang-senang menikmati dunia dan segala keindahannya?. Sebelum semuanya
tinggal sia-sia.
Apakah hidup hanya tentang reputasi dan harga diri?.
Padahal semua itu hanya bersifaat kefanaan duniawi. Sementara hidup bukankah
hanya untuk mati?.
Mengapa hidup ini begitu rumit?.
Dan mengapa bersyukur itu susah untuk aku yang
selalu berserah?.
Klaten,
22 Juli 2019
Komentar
Posting Komentar