Langsung ke konten utama

Menjadi seorang dewasa tidaklah mudah

Mengapa sekian bertambahnya usia, lingkar pertemanan semakin sedikit?. Bahkan tidak mempunyai teman merupakan hal yang wajar. Rasanya hidup hanya monoton tak bergerak kemana saja.
Dewasa hanya lah sebuah angka yang semakin tua. Remaja hanya lah pemanis saat usia muda.
Mengapa waktu selalu berjalan, dan hanya aku habiskan untuk melakukan aktivitas yang seperti itu saja?. Bahkan tidak ada perubahan sama sekali. Pengalaman pun hanya itu-itu saja.
Mengapa orang-orang dewasa itu menganggap dirinya lah yang paling benar?. Mereka selalu tahu hal-hal apa saja yang bahkan belum diketahui orang-orang pelajar.

Berdandan itu manfaat nya apa?
Mengapa orang-orang dewasa harus menata dirinya seperti berdandan atau merubah penampilan?. Sebenarnya tujuan berdandan itu apa?. Bukankah jika berdandan wajahnya akan sama saja?. Bahkan yang berubah hanya warna kulit, yang semula hitam menjadi putih.
Sebenarnya untuk siapa kaum perempuan itu berdandan?. Apakah hanya untuk mengundang birahi lelaki atau untuk mempercantik diri sendiri?.
Aku masih ingat kejadian tempo lalu. Ketika dulu aku mencoba berdandan  saat kuliah. Padahal aku hanya memakai serum, bedak, dan lipstick. Nampaknya itu hanya dandanan natural tidak terlalu bold. Tetapi dampaknya sangat memalukan. Aku di bully habis-habisan dengan omongan kejam teman-teman.

Juga ditanya “Untuk siapa kamu berdandan?”. Aku jawab saja untuk diriku sendiri. Bahkan mereka tidak percaya, malah mengejekku dengan tertawa hinaan.
Ditambah menyebut seorang kakak tingkat yang sedang aku kagumi saat itu. Mereka juga bertanya merk skincare apa yang aku pakai, agar wajah bisa glowing. Menyebalkan sekali.
Mengapa orang yang tidak biasa berdandan, lalu merubah dirinya dengan berdandan menjadi sesuatu yang aneh?. Malah di ejek setengah mati. Jika perempuan tidak berdandan saat kuliah apakah itu hal yang aneh?. Justru tidak. Sebenarnya saya suka seorang perempuan yang berdandan natural tidak berlebihan. Atau wajah asli lebih memesona daripada memakai skincare merk ternama.
Ketika aku berdandan di rumah, kebetulan bapak melihat wajahku dengan herannya. Lalu bilang, “Tumben kamu berdandan?”. Dan aku menjawab sekenanya, “Mau keluar Pak.” Huhuhu, menyebalkan sekali.

Mengapa menjadi seorang perempuan itu sangat ribet?. Jika hendak bepergian harus memilih baju, tas, sepatu, dan dandanan. Mengapa perempuan itu lebih mementingkan penampilan?. Ingin rasanya aku menjadi seorang lelaki yang tidak ribet jika pergi ke mana saja. Bukankah hidup itu sederhana?. Gengsinya yang bikin ribet.
Lantas mengapa perempuan jika ketinggalan gaya berpakaian menjadi hal yang sangat aneh?. Mengapa perempuan harus tampil sempurna jika ingin keluar meninggalkan rumah?. Mengapa perempuan harus tidak boleh ketinggalan zaman?. Mengapa seorang perempuan harus bisa bersolek dan merawat diri?.

Menjadi seorang dewasa tidaklah mudah. Harus mengetahui gaya berpakaian, tampilan, dan juga harus bisa menyesuaikan suasana. Jika berada di keramaian, hal apa yang harus dilakukan. Begitu pun jika berada di kesepian, apa yang harus dikerjakan. Tetapi mengapa usia dewasa jiwa malas makin menggerogoti?. Rebahan adalah kegiatan setiap saat jika tidak ada kerjaan. Setelah dicanangkan, mengapa usia dewasa rasa gabut semakin menjadi-jadi?.

Apakah gabut dan rebahan menjadi hal yang lumrah untuk setiap orang dewasa?. Sepertinya rebahan merupakan kegiatan yang paling menyenangkan, ketika malas untuk keluar rumah.

Makna hidup orang dewasa
Mengapa usia dewasa harus benar-benar memahami makna kehidupan?. Seperti hidup untuk bekerja lalu mendapatkan uang. Apakah jika mendapatkan uang semuanya bisa dibeli? Apakah mereka senang dengan uangnya yang begitu banyak?. Mengapa hidup itu selalu soal uang?. Bahkan jika tidak ada uang segalanya tidak bisa dibeli.
Mengapa hidup begitu membosankan?. Jika di rumah hanya seperti itu saja. Apabila di luar rumah ya hanya itu, semuanya tidak berubah. Sungguh membosankan.

Rasanya aku tak ingin menjadi dewasa. Ingin hidup seperti kanak-kanak saja. Bisa bermain dan bebas ke mana saja. Tanpa harus memikirkan uang untuk belanja atau makan.
Dewasa sungguh menyiksa. Harus mempunyai pandangan hidup, biar kelak menjadi orang yang sukses. Lalu membanggakan orang tua dengan pangkat dan harta. Apa dengan begitu perasaan anak bisa bahagia?.
Sementara semakin dewasa, meminta uang ke orang tua saja rasanya malu. Entah alasan apa, aku semakin tidak tega untuk meminta uang kepada orang tuaku.
Ya, menjadi dewasa harus memiliki pekerjaan yang memadai. Agar bisa mendapatkan uang. Setelah itu, anak tidak lagi menjadi beban kedua orang tua.

Hidup untuk mencari pasangan
Mengapa dewasa harus segera mempunyai pasangan hidup?. Mengapa harus bekerja keras untuk memenuhi kehidupan?. Jika sudah mempunyai anak, apakah mereka sudah mencapai tujuan-tujuan hidup yang sebenarnya?. Apakah hidup tentang lahir, jalan, bekerja, lalu menikah?.
Aku yang masih jomblo belasan tahun selalu ditanya sudah punya pacar?. Aku selalu menjawab “Belum”. Mereka tidak percaya. Mengapa orang-orang tidak percaya jika aku masih jomblo?. Apakah dengan pacaran, hidup mereka bisa bahagia?. Apakah mereka telah merasa keren jika sudah berpacaran?.

Aku menganggapnya sebagai orang bodoh, untuk mereka yang sedang berpacaran. Mengapa?. Ya, mereka selalu menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya dengan pacarnya. Mereka yang berpacaran selalu bertemu setiap saat. Setelah itu makan merupakan pilihan utamanya. Apakah semua itu tidak butuh uang?. Padahal masalah uang saja mereka masih meminta kepada orang tuanya. Apakah itu yang dinamakan keren?.

Jika tidak ketemuan pasti selalu menghubungi lewat telephone. Entah itu chatting-an, voice message, atau video call. Aku yakin, orang yang sedang berpacaran ketika chatt-an sampai lupa waktu. Bahkan chatt-an sampai jam satu dini hari. Mereka membahas apa gitu?. Atau melakukan panggilan selama tiga jam. Aku heran dengan gaya berpacaran seperti itu, obrolan apa yang sedang di bicarakan.
Untuk bicara langsung saja merasa kesusahan. Setelah di media sosial segalanya berubah. Mengapa menjadi dewasa harus mempunyai pacar?. Sesungguhnya pacar itu untuk apa? jika nantinya dia bisa lepas meninggalkan. Bukankah semua sudah digariskan?. Lantas untuk apa pacaran jika nantinya hanya dipermainkan?.

Mengapa kehidupan selalu seperti itu. Tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan untuk menikmati kehidupan pun aku belum tahu caranya seperti apa. Apakah tertawa bisa menghilangkan beban yang ada di fikiran?. Padahal tawa sifatnya hanya sementara. Setelah itu akan timbul perasaan susah atau sedih.

Sunyi menghampiri
Mengapa menjadi dewasa harus merasakan perasaan sunyi yang berkali-kali?. Apalagi di waktu malam hari, suasana bertambah  sunyi senyap. Hal yang bisa kulakukan hanyalah merenung, membaca, atau , menulis. Waktu tengah malam adalah jeda yang tepat untuk menulis. Sungguh kala yang sangat mendamaikan hati yang selalu patah.

Mengapa harus bertambah usia?. Apakah benar, hidup hanya tentang perjalanan yang tiada usai?. Aku telah mengalami fase kanak-kanak, remaja, dan saat ini akan menuju dewasa. Masa yang paling indah adalah masa kanak-kanak. Remajaku habis dimakan diam dan rumah. Sementara saat ini masa akan menuju dewasa akan usai direnggut sunyi.

Pada tahun 2020 nanti dua dekade usiaku. Apakah nanti aku harus mencari tambatan hati agar tidak merasakan sunyi?. Apakah nanti selepas kuliah aku harus pergi kesana kemari untuk melamar pekerjaan?. Apakah jika sudah mapan dalam hal pekerjaan, waktunya untuk menghalalkan seseorang?.

Mengapa hidup tentang pertanyaan yang tiada habisnya. Rasanya membingungkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Sekeras inikah hidup?

Sekeras Inikah Hidup? Ruang detik tak mampu berbicara Menunggu serpihan udara melambai melewati kaca Beradu suara membentuk nada Melankolis namanya Terdistorsi merasuk sukma Melawan realita dalam keadaan fana Banting tulang menjadi makanan kesehariannya Peluh keringat simbol kerjanya Rela pergi esok hari mengukir rupiah lewat tangan mungilnya Anak menjadi tumpuan masa depan Membangun seenggok harapan Melalui jenjang pendidikan, menuai hasil impian Apakah ini yang disebut kehidupan? Sekeras batu karang tanpa ketajaman Terasing dalam kesemuan dan keraguan Ragu melangkah salah tujuan Meniti masalah membuai keanehan Mencaci diri sendiri menyesali keabadian Letih nafasnya bukti tanggung jawab kepada insan Tak kuasa melihat keperihatinan Sungguh, inikah hidup di atas daratan Berjuang mati-matian bekerja demi mempertahankan kehidupan Melawan keegoisan yang terkadang membuat lupa akan kenyataan

Pulang

Pulang Lembayung angin membisik sukma Sayang raganya tak ada lagi di sana Aku ingin menyerah, namun Salahkah bila aku berhenti melangkah? Untuk apa!!! Hidup hanya menuai kesalahan Tambah terasing di keramaian Menjulur dan melebur menjadi kenangan Tersedu-sedu sepanjang malam Ingat akan cobaan yang tertanam Melalui nyanyian sunyi yang temaram Aku hidup bersama serpihan batu pualam Aku sempat berharap, Lebih baik langit runtuh saja Menenggelamkan seluruh isi dunia Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala Sekarang dan hari esok akan sama saja Tetap berjalan seperti udara Tuhan, jika alur dunia yang fana Perlahan-lahan masih sama Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang Lalu, semuanya akan hilang Yogyakarta, 11 Agustus 2018