Langsung ke konten utama

Orang-orang Menyebutnya Dengan Sunyi



Mengapa sih, orang-orang pada mempeributkan tentang sunyi maupun sepi?. Jika usia mulai bertambah sunyi pun akirnya menemani. Mengapa orang-orang itu selalu menganggap sunyi itu hal yang aneh?. Padahal sebenarnya orang-orang selalu sunyi meski tidak disadari. Mereka menyembunyikan rasa sunyi itu dengan cara berbaur dengan orang lain. Tetapi, bukankah cara seperti itu akan menambah sunyi yang terus mengelilingi naluri?

Rasanya waktu begitu kejam. Hal ini dibuktikan jika menikmati hari dengan segala aktivitas maka jarum jam akan semakin cepat. Sebaliknya jika hanya berdiam dan tidak melakukan apa-apa sepertinya jarum jam akan berhenti dan bergerak sangat lamban. Setelah itu, sunyi pun terjadi. Pada akhirnya, lidah kelu untuk mengatakan sesuatu. Sampai hanya diam dan memikirkan segalanya yang ada di kepala.

Setelah belasan tahun baru aku memahami, bahwa sunyi selalu menghampiri. Entah itu berada di keramaian banyak orang atau di tempat-tempat umum. Meski ramai, sunyi tak henti-hentinya berbisik. Hal ini pernah ku alami selama menjadi mahasiswa perantauan salah satunya di Yogyakarta. Semenjak aku singgah di kota, tanpa ku sadari perbedaan kota dan desa itu mulai ada.
Kota perantauanku berbeda dengan desa orang tuaku. Dimana kota yang ramai dipenuhi orang berjejalan dan kendaraan lalu lalang. Setiap hari selalu ada orang melakukan aktivitas dari pagi hingga malam. Sungguh kota selalu ada cerita tentang hingar dan bingar. Sedangkan desa sungguh sunyi dari himpunan orang. Banyak sawah yang menandakan mata pencaharian seorang anak desa sebagai petani. Jangan salah sangka, menjadi seorang petani sangatlah sulit.

Menciptakan padi hingga memanennya untuk berubah menjadi sebutir beras untuk dimakan sehari-hari. Fasilitas desa berbeda dari kota. Dimana desa hanya mempunyai toko kelontong atau swalayan sebagai pusat barang-barang serba ada. Tempat nongkrong pun hanya sebatas warung makan atau angkringan. Ya sebut saja angkringan, tempat jajanan paling murah di desa. Biasanya angkringan buka di sore hari sampai dini hari.

Ya, angkringan biasa menjadi tempat favorit bagi kalangan semua orang. Kebanyakan ramai jika waktu malam hari. Mengopi sembari ditemani obrolan kecil di antara pembeli. Jika Anda sudah berada di angkringan jangan lupa untuk makan mendoan. Makanan yang laris di angkringan itu mendoan namanya. Tempe yang diberi tepung saat penggorengan. Rasanya enak dibanding jajanan lainnya.

Kota selalu buka dua puluh empat jam. Sementara desa paling setelah jam dua belas malam kondisi jalanan sepi senyap. Bahkan orang-orang yang sedang menikmati udara malam jumlahnya sedikit dan yang lainnya enggan untuk keluar di malam hari. Dengan alasan suhu udara yang semakin dingin. Semakin hari udara di desaku waktu malam hari semakin dingin. Bahkan pernah mencapai dua puluh derajat celcius.

Tak hanya udara yang dingin, orang-orang nya pun juga ikut dingin. Semenjak aku merasakan pengalaman merantau selama satu tahun, kondisi rumah sekelilingku semakin dingin. Suasana sunyi setiap hari. Dulu setiap siang selalu ada acara kumpul ibu-ibu merumpi di setiap rumah. Sempat rumahku menjadi tempat favorit untuk merumpi. Entah membahas masalah rumah tangga, kehidupan orang lain, atau acara televisi yang sedang di sukai ibu-ibu. Tayangan kompetisi dangdut misalnya.
Sejak mencari uang semakin susah atau pekerjaan rumah yang menumpuk, acara rumpi yang biasa dilakukan ibu-ibu sudah tidak ada. Kini setiap hari selalu sunyi. Paling tidak, salah satu tetangga hanya sekedar mengobrol atau meminta bantuan kalau ada perlu untuk mendatangi rumah. Aku rasa, individualisme di desa semakin ketara.

Orang-orang di desa semakin berkurang. Mereka memutuskan untuk mengadu nasib di kota. Dengan kondisi kota yang mana notabennya mudah mencari rezeki di sana. Desa mulai kehilangan nyawa. Suasana sepi selalu meronta setiap hari. Jalanan pun mulai lenggang layaknya arena sirkuit. Sungguh, di sini sunyi sekali.  Detik itu, aku mulai rindu dengan suasana kota.

Kota yang membuatku berada. Kota mampu merubah segala hidupku. Mulai dari lugu hingga kemayu. Awalnya tidak suka dan tidak mengenali apa itu fashion dan style. Di kota, aku dituntut untuk menjadi orang yang berbeda. Dari yang biasa saja atau sederhana menjadi serba ada. Tetapi, aku tetap tidak bisa berubah hanya untuk membuat orang-orang senang. Atau sekadar meniru gaya orang lain agar bisa seimbang. Nyatanya aku tetap aku.

Sungguh, kota membuat hidupku  menjadi hedon. Biaya hidup desa yang serba sederhana dan murah sedangkan di kota sebaliknya. Tetapi aku menikmatinya. Mau bagaimana lagi? Keuangan yang terhimpit pasti ada jalan untuk bersenang-senang meskipun hanya satu atau dua kali.
Yogyakarta merupakan kota pelajar. Banyak Perguruan Tinggi yang berdiri untuk melahirkan orang-orang terkemuka. Selain itu, Yogyakarta juga banyak tempat wisata yang menarik. Sementara aku belum pernah mengunjungi tempat wisata satu per satu. Bagaimana akan mengunjungi, jika waktu akhir pekan aku selalu pulang ke rumah. Meski jarak rumah dengan Yogyakarta paling tidak bisa ditempuh selama satu jam lebih.

Tetapi jika libur, aku memilih pulang ke rumah. Meskipun hanya untuk menumpang tidur. Akan lebih baik jika meninggalkan kos-kosan selama dua hari atau satu hari. Karena jika aku libur dan masih berada di kosan, aku bingung pekerjaan apa yang harus ku lakukan. Sementara di kosan hanya memandang dinding yang masih bersih dan berdiam diri di sana. Merasakan sunyi yang tak henti-hentinya memaki.

Semakin hari, aku mulai menyadari bahwa sunyi ada untuk menemani. Karena seseorang butuh waktu untuk sendiri. Entah untuk merenung, belajar, atau berbicara sendiri. Percayalah sunyi tidak akan pernah pergi sampai maut menanti. Bukankah sunyi itu hal yang paling berarti? Lalu mengapa harus dibenci?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa harus dia?

Sudah hampir satu tahun lebih perpisahan SMA telah usai. Bahkan sudah tiga tahun lamanya aku mengenal dia. Teman satu kelas yang tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Aku sebenarnya tahu, kalau dia mempunyai rasa terhadapku waktu kelas sepuluh.   Tetapi, mengapa dia tak juga berusaha mendekatiku. Dahulu, dia adalah Dilanku waktu putih abu-abu. Aku hanya mengagumi dia lewat diamku. Ya, aku yang notabennya makhluk paling diam dalam satu kelas. Aku dan dia hanya bisa tatap-tatapan saat pelajaran. Mengapa aku dulu sangat goblok?.   Berbicara pun tidak pernah. Hingga pada akhirnya, dia bosan dengan rasa yang ada padaku. Sampai dia berpacaran dengan teman satu kelasku. Hatiku sangat dibuat patah olehnya. Sungguh aku menangis sedu sedan dalam diam. Fikiranku tak karuan. Hanya dia makhluk yang aku mau. Tetapi nyatanya, dia tak urung untuk mendekatiku.  Setelah putus dengan teman satu kelasku, dia mulai berpacaran dengan anak Ipa. Sungguh menyebalkan. Mengapa gant...

Sekeras inikah hidup?

Sekeras Inikah Hidup? Ruang detik tak mampu berbicara Menunggu serpihan udara melambai melewati kaca Beradu suara membentuk nada Melankolis namanya Terdistorsi merasuk sukma Melawan realita dalam keadaan fana Banting tulang menjadi makanan kesehariannya Peluh keringat simbol kerjanya Rela pergi esok hari mengukir rupiah lewat tangan mungilnya Anak menjadi tumpuan masa depan Membangun seenggok harapan Melalui jenjang pendidikan, menuai hasil impian Apakah ini yang disebut kehidupan? Sekeras batu karang tanpa ketajaman Terasing dalam kesemuan dan keraguan Ragu melangkah salah tujuan Meniti masalah membuai keanehan Mencaci diri sendiri menyesali keabadian Letih nafasnya bukti tanggung jawab kepada insan Tak kuasa melihat keperihatinan Sungguh, inikah hidup di atas daratan Berjuang mati-matian bekerja demi mempertahankan kehidupan Melawan keegoisan yang terkadang membuat lupa akan kenyataan

Pulang

Pulang Lembayung angin membisik sukma Sayang raganya tak ada lagi di sana Aku ingin menyerah, namun Salahkah bila aku berhenti melangkah? Untuk apa!!! Hidup hanya menuai kesalahan Tambah terasing di keramaian Menjulur dan melebur menjadi kenangan Tersedu-sedu sepanjang malam Ingat akan cobaan yang tertanam Melalui nyanyian sunyi yang temaram Aku hidup bersama serpihan batu pualam Aku sempat berharap, Lebih baik langit runtuh saja Menenggelamkan seluruh isi dunia Mengenyahkan puing-puing bangunan cakrawala Sekarang dan hari esok akan sama saja Tetap berjalan seperti udara Tuhan, jika alur dunia yang fana Perlahan-lahan masih sama Kembalikanlah aku ke Peraduan-Mu Aku ingin Pulang, Pulang, dan Pulang Lalu, semuanya akan hilang Yogyakarta, 11 Agustus 2018